Tradisi Sunat

Mengapa harus sunat??

Sunat adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki (gak tau kalo perempuan). Iseng-iseng mengamati fenomena sunat yang dihubungkan dengan pengalaman pribadi dahulu di kampong halaman. Di kampungku yang namanya sunat umumnya dilakukan ketika anak duduk dibangku SD, dan kalau sampai SMP baru sunat, maka secara otomatis akan menjadi bahan ejekan teman sebaya atau bahkan orang-orang dewasa.

Sunat dalam pemahaman masyarakat di kampungku merupakan identitas agama dan sekaligus identitas budaya yang berbau budaya patriarki. Sebelum anak itu disunat maka anak selamanya dianggap masih kecil, kalau main bersama teman-teman sebaya, maka sering kali dijadikan penentu bahwa anak itu boleh ikut atau tidak (terutama pada jenis permainan yang jumlahnya terbatas). Atau anak-anak yang belum sunat sering kali di jadikan “popok bawang atau bawangan” dalam setiap permainan. Bahkan lembaga pendidikanpun ikut berkiprah dalam mendukung perkembangan budaya ini. Sunatan massal misalnya akan diadakan pada tingkat SD, dan guru akan segera menyuruh anak didiknya untuk sunat bila sudah kelas 5 atau 6 belum sunat. Disini konstruksi social tentang sunat dibangun oleh konstruksi agama dan budaya patriarki yang kental. Masyarakat jawa timur (terutama pesisir) tentunya dikenal dengan basis NU yang kuat. Selain itu dalam konstruksi social, laki-laki dituntut untuk perkasa dan pemberani. Hal itu diantaranya akan terbukti dengan keberanian seorang anak untuk melakukan sunat pada usia-usia sangat muda.

Lain halnya dengan cerita temanku ynag berasal dari wilayah jawa tengah agak ke selatan. Disana sunat umumnya dilakukan pada anak usia SMP. Budaya jawa dan kejawen lebih dominant, sehingga konstruksi social cultural tentang sunat juga berbeda. Sunat ideal dilakukan rata-rata pada usia SMP dengan pertimbangan anak sudah mempunyai keberanian dari dalam, dan ada rasa kasihan dari orang tua dan masyarakat. Sunat dipahami sebagai kewajiban yang dilakukan pada saat anak dianggap siap secara mental dan fisik.

Perbedaan konstruksi masyarakat tentang sunat ini tentu saja hanya sebuah pengaruh-pengaruh sosio culture yang dianut masyarakat tertentu. Toh esensinya sama yaitu “pemotongan”.

Terlepas dari itu semua, ternyata ada hal yang menarik untuk dicermati. Dari macam-macam ekspresi yang aku dan teman-temanku alami ketika disunat dulu, ternyata menunjukkan tingkatan nyali seseorang yang dibawa sampai dewasa. Bagi yang menangis waktu disunat, mereka lebih cenderung kurang bernyali. Meskipun wajahnya garang, omongannya kasar, bertato tapi nyalinya kecil. Bagi yang tidak menangis dan menghadapi prosesi sunat dengan biasa saja, percaya atau tidak insyaallah dia tumbuh menjadi pribadi yang bernyali besar, meskipun mereka adalah pendiam.

Ada-ada saja ya! Coba deh tanya pada teman laki-laki mu dan lihat bagaimana nyalinya… Hehehe… Jangan percaya kalau belum nanya. Hahaha…..

Comments

Leave a Reply