“Syi’iran dalam Perspektif Masyarakat dan Sastra Jawa”

Dalam pemahaman masyarakat jawa kuno syi’iran dikenal dengan kata singiran. Mungkin ini karena lidah orang jawa yang menyebut huruf “ain” dengan “nga”. Misal “alamin” jadi “ngalamin”.

Islam berkembang di Jawa dengan Khas, ada perubahan dari ajaran aslinya, dimana Islam di Jawa lebih bernuansa pedesaan, sehingga dari lagu atau seni musiknyapun ada perubahan, tidak semuanya langsung diterima tetapi mengalami tawar-menawar sampai terlibat “konflik berkesenian”. Dalam proses Sosio Historis dan Culturalnya Islam masuk Jawa mengalami pengurangan-pengurangan nilai/unsur keIslamannya terutama dalam ajaran dan cara melakukannya. Islam di Jawa mempunyai ciri khas berupa:

Pengaruh lagu Lokal dan musik Islam di Jawa

Ada konflik dalam berkesenian (termasuk syi’iran atau singiran) antara seniman Jawa dengan Santri. Masyarakat Jawa menmganggap bahwa dalam kesenian dirinya lebih tinggi, lebih sulit ditiru, butuh latihan dan proses lama untuk menguasainya. Sedangkan kesenian santri cenderung lebih gampang ditiru. Disini ada dua egoisme masing-masing, dimana kaum Jawa lebih menang dalam berkesenian, sedangkan santri lebih menang dalam syareat islam.

Kemudian muncul yang namanya Islam parsial, yang menunjukkan adanya dua bentuk konflik yang terjadi, yaitu konflik sosial dan estetika.

Masyarakat Jawa dalam berislam menganggap bahwa dia lebih tinggi dalam praktek sufinya dan berkeseniannya daripada kaum santri.

Kemudian para kyai jawa menggunakan kesenian untuk mensosialisasikan Islam, sehingga dengan cara ini lebih mudah diterima masyarakat pada umumnya karena kesenian ini sudah ada sebelumnya, tingga memodifikasi muatannya/ajaranya. Sehingga cara-cara berdakwa antara orang Jawa (kyai Jawa) lebih kreatif dari pada kyai dari kalangan santri.

Pada kesimpulannya dakwah agama islam di Jawa (Indonesia) harus lebih kreatif dalam penyampaiannya, fleksibel dan menggunakan media-media yang memasyarakat, diantaranya adalah media kesenian.

(tulisan ini merupakan intisari dan pengembangan dari presentasi Dr. Purwadi, M.Hum – dosen sastra Jawa UGM, pada Workshop “Belajar dari Syi’iran: Art and Multicutural” yang diselenggarakan Recent Media – Yayasan Akar Rumput)

Comments

Leave a Reply