Mengenal Syi’iran

Pada mulanya pemahaman awal saya dan teman-teman terhadap kata Syi’iran adalah merupakan salah satu genre yang terdiri atas kata dan lagu, yang beredar secara lisan (oral transmission) di antara komunitas lokal Jawa, terutama berpusat kampong-kampung di wilayah Pantai Utara Jawa. Sebagai sastra lisan, syi’iran memang bersifat lokal, yaitu bahwa bahasa yang dipergunakan adalah bahasa daerah di mana tradisi syi’iran itu ada.

Ada pula yang mengatakan bahwa Syi’iran berasal dari kata syi’ir dan an (dalam bahasa arab diartikan syair) dan akhiran “an” menunjukkan jawanisasi atau identitas kejawaan. Jadi menurut pengertian ini syi’iran adalah syair/puisi dengan bahasa jawa dan dilagukan dalam pembacaannya. Dalam hubungannya dengan tradisi Islam, maka syi’iran merupakan sebuah seni tradisi yang istilahnya lahir di Jawa, mungkin dalam masyarakat lain (luar jawa atau bahkan luar Indonesia) punya istilah lain untuk menggambarkan seni tradisi Islam ini.

Menurut salah seorang teman saya dalam sebuah diskusi, Syi’iran mencakup kalimat yang disusun teratur dan bersajak, yang dapat dibuat melalui penguasaan ilmu arudl, yaitu semacam ilmu tentang teknik untuk membaca dan membuat syair. Syi’iran juga mencakup pengertian nadham, yaitu semacam not lagu untuk menyanyikan syair tertentu.

 

Pada masyarakat jawa syi’iran merupakan alat sosialisasi ajaran Islam yang paling efektif karena melalui media kesenian yang notabene banyak disukai orang. Puncak kejayaan syi’iran di jawa adalah berkembangnya berbagai kesenian yang bernafaskan Islam pada jaman Wali Songo. Sebenarnya sampai sekarang syi’iran masih dikembangkan oleh kyai-kyai desa yang berbasis aliran Ahlussunah Waljamaah, misalkan yang paling terkenal adalah syi’iran gubahan KH Bisri Musthofa dari Rembang. Beliau banyak sekali mengubah lagu-lagu syi’iran baik untuk keperluan puji-pujian, pengajaran kitab maupun pesan-pesan yang mudah dihapal dan diingat.

 

Pengertian Syi’iran di atas, merupakan langkah awal dalam memahami apa itu syi’iran dan bukan sebuah pengertian mati yang stagnan. Masih sangat mungkin berbagai pengertian muncul berdasarkan pemahaman yang berbeda, perspektif ilmu yang berbeda, dan bahkan bersumber dari realitas masyarakat yang berbeda. Dan saya yakin dalam perkembangan riset dokumentasi ini, akan ditemukan berbagai pemahaman tekstual dan kontekstual yang mengejutkan. Bahkan yang belum kami pikirkan saat ini.Untuk itu keterbukaan pikiran terhadap pendapat orang lain, realitas masyarakat, dan berbagai pengalaman merupakan asas penelitian yang kami pegang. Batasan syi’iran baik konsep maupun ragamnya juga akan berkembang seiring perjalanan penelitian ini.

 

************************************************************

Comments

2 Responses to “Mengenal Syi’iran”

  1. rosyid on February 28th, 2008 10:59 am

    bisa dikupas yang lebih spesifik tentang dunia sastra arab???

  2. Andik Nurcahyo on March 3rd, 2008 4:34 am

    mohon maaf pengetahuan saya terhadap sastra arab sangat terbatas.

Leave a Reply