Multiculturalism Syi’iran di Jawa dalam Perspektif Historis
Multikulturalisme budaya letaknya bukan pada geo-politik atau tempat atau wilayah (peradaban), namun lebih pada keberagaman main set suatu kelompok atau komunitas, tetapi bukan masyarakat itu sendiri namun main set nya Multi berarti pertemuan antar budaya (main set), bukan pertemuan antar kebudayaan.
Munculnya idiom-idiom atau wacana budaya jawa lebih dalam bentuk mainset, sehingga hal ini memunculkan stratifikasi budaya yang mengandung hal-hal:
-
budaya yang hegemonic
-
budaya yang semi hegemonic
-
budaya yang marjinalies (terpinggirkan)
Dari stratifikasi budaya (main set) tersebut suatu budaya bisa dipahami sebagai budaya yang multi atau mono.
Syi’iran dalam histories budaya jawa bukan hanya sebagai lagu untuk hiburan, namun lebih dari itu syiiran merupakan bentuk mitologi religius yang fungsinya cukup efektif dan strategis untuk membentuk atau membangun masyarakat yang tidak berbentuk (alomove).
Munculya seni atau tembang (termasuk didalamnya ada syiiran) secara histories dapat dilihat secara periodisasi pada saat peradaban atau kerajaan atau kekuasaan kolab.
Pada abad 4 dan 5
Setelah hancurnya Sriwijaya, masyarakat terpecah-pecah sehingga membuat pola-pola yang merupakan cikal-bakal mengapa pola geopolitik menjadi pola-pola baru yang lebih bersifat cultural, mitologi, mistis (tradisi budaya jawa). hal inilah yang menjelaskan bahwa pola budaya yang bersifat geopolitik menjadi pola budaya dalam arti main set. Atau hal ini lebih disebut sebagai Play Roma (keterpenuhan histories). Contoh masyarakat Kebumenlebih kental dengan jawanya dan orang sunda lebih kental dengan sundanya.
Pada saat kekuasaan kerajaan menurun/ambruk, masyarakat mengalami alomove dan berusaha membentuk suatu karya-karya untuk memenuhi kebutuhan alomove ini. Karya tersebut bisa berupa karya-karya khas masyarakat pinggiran yang terkadang juga merupakan counter terhadap budaya kraton.
Dalam perkembangannya karya-karya ini sangat efektif untuk membangun kohesivitas yang kuat untuk menghancurkan kekuatan pusat. Termasuk dengan kemunculan wali-wali yang menggunakan model ini. Sehingga play roma inilah yang menghancurkan kekuatan pusat atau kerajaan.
lantas apakah syiiran dari arab? hal ini masih disangsikan
Pada abad 14 atau 15 frame arabisasi Islam di Indonesia telah terputus, maka dari itu penyebarab islam menggunakan elemen-elemen local berupa adanya teks-teks dalam bentuk hikayat, suluk dan lain-lain. Munculnya budaya-budaya tradisi besar ini bukan persoalan sederhana dalam membangun budaya tradisi baru tentang Islam Jawa.
Tradisi ini bisa bermakna politis juga, yaitu untuk mengcounter budaya kraton yang hegemonic dan “sesat”.
Yang perlu disampaikan adalah munculnya tradisi-tradisi besar yang khas dengan mitologi dan mistik adalah sebuah strategi dalam rangka untuk membangun asimilasi/akulturasi itu berjalan dengan baik. Buktinya Islamisasi kerajaan Mataram pada waktu itu merupakan hal yang luar biasa dimana Islamisasi terjadi pada tingkat negara melalui perlawanan cultural (syiiran salah-satunya)
Pada masa Emperium (eropa)
Pada jaman kedatangan emporium eropa ini, terjadi proses pembentukan kongsi-kongsi ekonomi yang mempengaruhi pola-pola masyarakat baru sehingga berdampak pada pola-pola budaya pula.
Intinya disini adalah bahwa pembentukan pola-pola geopolitik dan geoekonomi berpengaruh terhadap pembentukan budaya-budaya yang berbeda pula. Hal inilah salah satu yang menyebabkan terjadinya multikulturalisme pada syiiran. Kongsi-kongsi secara ekonomi ini merupakan jalinan geopolitik-geopolitik tertentu yang kemudian juga mempengaruhi jalinan budaya yang sama (proses adopsi) dianut masyarakatnya. Sehingga jarring-jaring budaya tersebut sama atau menyerupai jarring-jaring kongsi yang dibentuk oleh imperium. Hal ini juga bisa menerangkan bahwa terdapat kesamaan budaya jawa dengan luar jawa yang merupakan satu kjalinan kongsi pada masa imperium.
Pada abad 18
Pada saat ini jarring-jaring yang dibentuk emporium ini semakin tidak jelas karena dihancurkan budaya local yaitu ditandainya oleh pecahnya kerajaan mataram menjadi 2 kerajaan yaitu kerajaan Ngajogyakarto dan surakarta.
Dalam keadaan ini syiiran bisa dilihat orientasinya pada lebih kemana, arab atau jawa, keraton solo atau jogja.
Pecahnya mataram ini juga membuat sebuah kesadaran pada sebagian orang (tokoh masyarakat) bahwa kohesivitas sosial itu penting, dimana posisis syiiran atau temabng-tembang berfungsi sebagai anyaman halus untuk membangun tradisi sendiri.
Syiiran bisa berbentuk :
-
Religius
-
Dedaktif
-
Historis
-
Mistism
-
Kritikus
Syiiran dalam konteks tersebut merupakan syiiran yang diluar pesantren, sehingga syiiran yang dimasyarakat lebih berkembang dari pada di pesantren. Syiiran ini berkembang sampai pada abad 20an, dimana syiiran dikemas dalam tradisi besar (universalisasi ideology).
Pada tahun 1930-1940:
Orang-orang komunis menggunakan symbol-simbol tradisi diantaranya syiiran yang dikemas secara sosialis. Oleh kyai-kyai pada jaman itu syiiran juga digunakan untuk berdakwah.
Pada tahun 1960an:
Lagu genjer-genjer juga digunakan oleh komunis untuk mengkritik penguasa.
Pada tahun 1970 an:
Orde baru lahir. Oleh Suharto syiiran juga digunakan dalam bentuk kitab piwulang jawa (angger-anggere Jawi) yang dianggap suci dan merupakan hasil modifikasi dan kodifikasi titalitas dari budaya jawa dan Islam.
Itulah proses metamorfosis dari seni tradisi syiiran yang mualai dari milik masyarakat kecil sampai milik penguasa suharto.
Secara pakem di jawa ada 3 tipe syiiran yang berkembang (tahun 1920an) yaitu:
-
Langitan: meliputi wilayah Jatim, lombok dan Sumba
-
banjaran: banjarmasin, jateng sampai utara
-
Hinterland: banyumasan, kebumen dll.
(tulisan ini merupakan intisari dan pengembangan dari presentasi Dr. Arif Achyat – dosen Jurusan Sejarah UGM, pada Workshop “Belajar dari Syi’iran: Art and Multicutural” yang diselenggarakan Recent Media – Yayasan Akar Rumput)
Comments
2 Responses to “Multiculturalism Syi’iran di Jawa dalam Perspektif Historis”
Leave a Reply
main set ato mind set?
masih bingung mbak, coba ntar tak cek…..