Syi’iran dalam Perspektif Etnomusikologi

Dalam perspektif Etnomusikologi Syi’ran adalah nyanyian yaitu ada lirik (bahasa/sastra) dan ada lagu (melodi/artistic/ musicologis).

Di Kebumen ada semacam syi’iran dengan nama Jamjanen yang mengacu pada nama Kyai yang mengajarkannya.

Syi’iran hadir dari pertemuan dua budaya yaitu jawa dan arab (dualisme) yang dalam pertemuannya dapat dibedakan tebal-tipisnya. artinya mana yang lebih tebal budaya arabnya (pesisir) dan mana yang lebih tebal budaya jawanya (pedalaman/selatan).

Dalam Syi’iran terdapat:

  1. Laras / pelaguan

  2. Style / cengkok

  3. Perbedaan Wilayah nada (tinggi-rendah suara)

  4. Lirik ( muatan/isi/teks/naratif), disinilah letak multikulturalisme tersebut.

Untuk memahami Syi’iran ada dua mainstream yaitu syi’iran yang dilakukan dan Syiiran yang diwacanakan.

Idiom-idiom syi’iran (pujian, tembang, dll) sudah ada sebelum Islam masuk.

Keberadaan tradisi nyanyian lebih tua dari Islam, kemudian Islam masuk maka tradisi nyanyian tersebut dirubah konteksnya. Yang dulunya ada nyanyian untuk mengkultuskan raja, maka dirubah untuk memuji rosul dan kenabian. Yang dulunya nyanyian untuk kepentingan mitologi, maka dirubah menjadi nyanyian cerita-cerita keislaman. yang dulunya nyanyian untuk upacara-upacara kemasyarakatan, maka dirubah pada nasehat-nasehat yang bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia. (tulisan ini merupakan intisari dan pengembangan dari presentasi Dr. Aton Rustandi – dosen STSI Solo, pada Workshop “Belajar dari Syi’iran: Art and Multicutural” yang diselenggarakan Recent Media – Yayasan Akar Rumput)

 

Comments

3 Responses to “Syi’iran dalam Perspektif Etnomusikologi”

  1. amelia on October 3rd, 2007 7:40 pm

    apakah kehadiran/kedatangan agama islam di nusantara pada umumnya merusak budaya yang sudah sedemikian komplex tercipta dari nenek moyang terdahulu?

  2. Andik Nurcahyo on October 18th, 2007 8:06 pm

    Makasih mbak Amelia atas commentnya,
    Merubah tidak harus atau tidak sama dengan merusak. Islam mempengaruhi konteks atau isi dari kesenian, tetapi wadahnya masih tetap. Sebenarnya bukan hanya Islam yang mampu merubah suatu budaya, tetapi seringkali budaya berubah karena pengaruh kekuasaan (politik) yang biasanya lebih frontal.
    Tapi setiap orang berhak untuk berbeda persepsi sesuai dari mana dia melihat sebuah fenomena. karena fenomena selalu multi persepsi dan relatif.

  3. Roy Thaniago on October 2nd, 2008 4:51 am

    Menarik sekali web ini! Membahas Islam lewat kajian budaya, kesenian, dan tradisi…

Leave a Reply