“Daerah Santri” di Bantul

Berawal dari kesombongan pemikiran sebagai seorang pendatang dari Jawa Timur. Saya selalu membandingkan kehidupan antara di kampung halaman (Lamongan) dengan yang ada di perantauan (Jogja), terutama kehidupan beragama. Memang secara umum nuansa keagamaan dalam kehidupan sehari-hari lebih kental di kampung halaman saya. Sehingga hal ini membuat saya mulai memandang sebelah mata tentang kehidupan keagamaan di Jogja. Dan keadaan ini berlangsung lama. Sejak pertama saya menginjakkan kaki di Jogja (th 1999).

Sampai pada akhirnya pada awal 2007 yang lalu, saya menemukan fakta yang mengejutkan tentang keberadaan “kota santri” di Kabupaten Bantul. Fakta menarik ini saya dapatkan melalui 2 tahapan. Yang pertama ketika saya diminta kakak angkatan untuk membantu analisis skripsi tentang keterkaitan kehidupan beragama kaum Nahdiyin (NU) dengan etos kerja para pedagang di Kanggotan, Pleret, Bantul.

Dari hasil analisis sederhana didapatkan kesimpulan bahwa keberadaan Pasar yang berkembang dengan pesat terkait erat dengan budaya-budaya keagamaan kaum Nahdiyin seperti pengajian, kesenian islam, keyakinan, nilai-nilai ibadah, kebersamaan, dll. Hasil analisis yang didukung oleh data-data ini tidak serta merta membuat saya percaya 100%. Melainkan muncul rasa penasaran atas keberadaan kaum Nahdiyin beserta budayanya tersebut.

Yang kedua, kesempatan untuk melakukan riset di daerah Pleret itu akhirnya datang juga tak lama kemudian. Riset dokumentasi seni tradisi islam di Bantul (termasuk Kec. Pleret) memberikan jawaban, pengukuhan, kekaguman sekaligus meruntuhkan anggapan bahwa Jogja tak punya kota santri. Dari sekian banyak list seni tradisi Islam yang saya dapat dari Dinas Kebudayaan Bantul, lebih dari separuhnya beralamatkan di Pleret. Ada Hadroh, sholawat Maulud, Sholawat Jawi, Rodat, Terbangan, Samroh, dll.

Saya menamainya sebagai “kota santri” karena di Pleret, terutama di daerah Jejeran, Kanggotan dan Wonokromo kehidupan keagamaan sangat kental. Budaya dan kesenian bernafaskan Islam sering terdengar dari musolla, masjid, rumah, ataupun ketika ada hajatan. Kelompok-kelompok pengajian terlihat aktif melakukan kegiatan. Beberapa pondok pesantren pun ada di Pleret. Orang yang dianggap sebagai tokoh masyarakat atau orang kaya biasanya mempunyai musolla pribadi yang digunakan oleh lingkungan sekitarnya (para tetangga). Bahkan ketika gempa Jogja terjadi, yang menjadi prioritas pembangunan atau perbaikan oleh sebagian besar masyarakat pleret adalah musolla-musolla itu, sedangkan rumahnya giliran berikutnya. Sore hari masih banyak terlihat anak-anak dengan pakaian sarung, peci, mukenah, atau jilbab berjalan menuju tempat mengaji dengan kitab di tangan. Dibeberapa tempat (wonokromo) tertulis tulisan “ Pukul 18.00 – 20.00 Jam Wajib Mengaji.

Kota santri …. Ya saya sangat menikmati kesejukan di sana. Masjid Wonokromo yang megah, suasana kehidupan yang harmonis, malamnya yang tenang, alunan sholawatnya yang menyejukkan hati, Sate, Tongseng, dan Tengkleng kambing di Jejeran yang “Mak Nyus”, patut di rindukan.

Comments

17 Responses to ““Daerah Santri” di Bantul”

  1. Dewi Kolbuniah Nur Ainy on December 6th, 2007 9:50 am

    Mulai memata matai kota santri nih sekarang

    *Awas jatuh hati loh :P

  2. Andik Nurcahyo on December 6th, 2007 4:52 pm

    Wah telat wik…
    dah terlanjur jatuh hati…..

  3. Raden Mas Messias Diponegoro. on January 15th, 2008 12:02 am

    Kotaraja Majapahit, 14 Januari 2008
    Salam Kangen Buat Bakule Sate & Tongseng Kambing “Mas Santoso dan Mbak Emma Pujiayu” (Lor Prapatan Jejeran), Selamat Melayani Pembeli dan Pelanggan dengan Baik, Selamat Menikmati juga Upacara adat-istiadat “Rebo Pungkasan” di Lapangan Pleret, Semoga Bahagia & Sejahtera.

    Dari Sahabat Lama,

    R.M. Messias Diponegoro

  4. Yuli Hananto, S.Pd. on January 15th, 2008 12:15 am

    Pleret menika selain kota santri, juga merupakan kota sejarah (Mataram Islam), karena dahulu merupakan bekas Kraton Mataram Sultan Agung Hanyakrakusuma (di Kerto) dan Sunan Amangkurat (di Kedaton) (Abad XVI dan XVII). Salam kangen kagem Pak Tris “Suhar” Rahardjo di Kanggotan RT 01/RW 10, Pleret, Bantul, Semoga tetap Sehat dan Kuat.

    Saking,

    Mas Yuli Hananto, S.Pd.
    Jl. Godean Km 5,5 Jogjakarta

  5. Mr.Gazelle on January 16th, 2008 12:29 am

    Mas Andik Nurcahyo, apa yang dimaksud dengan Masjid Patok Negara?

  6. Andik Nurcahyo on January 16th, 2008 9:05 pm

    Masjid Patok Negoro adalah sebutan bagi lima buah masjid Kraton Yogyakarta (Masjid Ploso Kuning, Masjid Mlangi, Masjid Babatan, Masjid Wonokromo dan Masjid Dongkelan).
    Keberadaan kelima masjid ini merupakan satu hal yang khas karena tidak dijumpai di kasunanan / Kraton yang ada di Jawa. Istilah patok negoro berasal dari dua kata yaitu Pathok (patok) dan Negara (nagoro).
    Didalam istilah bahsa Jawa patok adalah kayu atau bambu yang ditancapkan sebagi tetenger /tanda yang tetap, sedang nagoro adalah kota tempat tinggal raja, jadi patok negoro adalah sebuah tanda kekuasaan raja dan tanda tersebut tidak dapat dirubah. (sumber www. jogja.com).

    untuk lebih lengkap dan luasnya, saudara/i bisa mencari di google.

  7. Yuli Hananto, S.Pd. on January 21st, 2008 1:32 am

    Terima Kasih atas Jawabannya Mas Andik.

  8. Much on January 26th, 2008 9:37 pm

    Mungkin senada dengan islamkuno.com saya sedang merintis wadah baru yaitu www.kreasisantri.com untuk komunikasi Orang2 Kuno, khususnya para Santri, biar bisa mempertahankan nilai-nilai KUNO mungkin dalam hal kecerdasan Spiritualnya. Mohon Ide & Saran2nya ya..ke “muchbasyir@yahoo.com” Soalnya Designya masih blajaran, belum punya Tim nih, masih saya Sendirian

  9. Much on January 27th, 2008 4:50 am

    Dalam hal “Menelusuri Tradisi, Budaya dan Seni Islam Masa Lalu” saya usul ni mas:Coba Telusuri sejarah “Penanggalan ABOGE” yg sekarang dah gak umum lagi, padahal kalau mengacu dari teori Tafsir “Aljamal” ABOGE sampai saat ini menurut saya selalu cocok dengan keadan bulan/hilal & saya yakin itu sejarahnya erat dengan Kraton Jogja, saya kan pingin tau,

  10. Andik Nurcahyo on January 29th, 2008 9:45 am

    Wah terimah kasih usulannya mas, coba ntar kalo ada waktu dan kesempatan coba akan saya telusuri tentang penanggalan ABOGE.

  11. faj on January 31st, 2008 1:57 am

    subhanallah, ndik..cukup bagus penggambarannya.sukses ya… ;)

  12. Mr. Oemar Bakrie on August 5th, 2008 12:50 am

    Sepi ing pamrih rame ing gawe………….!!!

  13. nikenovalina on August 14th, 2008 10:05 pm

    salam kenal!!!!!!!!!!saya seorang mahasiswa sosiologi yang boleh dikatan masih bingung dengan ilmu saya sendiri. yang saya harapkan disini ada seorang yang dapat berbagi ilmu dengan anda. ilmu sosiologi yang saya pelajari di sekolah sangat berbeda dengan yang di banggu kuliah. saya merasa anda orang bijak yang bisa membagi pengetahuan anda tentang sosiologi yang berparadikma ganda

  14. hasan basri on September 7th, 2008 7:59 am

    maz saya bigungni nyrk refrensi sosiologi ,aku ada tugas ni maz aq hrus nxk ke capa

  15. cipta cute and imuet on September 12th, 2008 9:18 am

    salam kenal aku da tugas nie suruh mengartikan bagaimana proses pencarian ilmu kebenaran???? and yang satu suruh mencari arti psikologi agama,,, can u help me…. plase
    hayu pas ningtyas
    tanks

  16. cipta cute and imuet on September 12th, 2008 9:19 am

    ayo….ayo…..hidup anak santri,,, semoga Allah memberi keberkahan dalam setip langkah pada kita Amin,,,, jangn lupa ngaji nyok

  17. mahasin on October 27th, 2008 9:54 pm

    kalo bisa kasih tau dung sejarah dusun jejeran,, kok bisa dindamakan jejeran twu kenapa,,

Leave a Reply