Mengenal Metode Grounded theory

Sebelum tahu banyak tentang grounded theory, maka langkah awal untuk mengenalnya adalah melihat dari mana metode ini lahir. Grounded theory lahir dari Paradigma Kontruktivisme. Paradigma kontruktivisme merupakan suatu cara pandang dalam keilmuan dimana yang mencoba mengkontruksi atau merekontruksi suatu fakta yang terjadi dilapangan berdasarkan pada data empirik dan bekal pengetahuan yang membangun pola pikir si peneliti. Teori muncul berdasarkan data yang ada bukan dibuat sebelumnya sebagaimana dalam penelitian kuantitatif dalam bentuk hipotesis, melainkan metode pengumpulan data dilakukan melalui proses hermeneutik dan dialektik yang difokuskan pada kontruksi, rekontruksi dan elaborasi suatu proses sosial.

Pada awal perkembangannya, paradigma kontruktivisme mengembangkan sejumlah indikator sebagai pikiran dalam melaksanakan penelitian dan pengembangan ilmu. Beberapa indikator tersebut antara lain: (1) penggunaan metode kualitatif dalam proses penelitian ; (2) mencari relevansi indikator kualitas untuk lebih memahami data-data lapangan; (3) teori-teori yang dikembangkan harus bersifat membumi (grounded theory); (4) kegiatan ilmu harus bersifat natural (apa adanya) dalam pengamatan; (5) pola-pola yang diteliti dan berisi kategori-kategori jawaban menjadi unit analisis dari variabel-variabel penelitian yang kaku dan steril; (6) penelitian bersifat partisipatif daripada mengontrol sumber informasi.1

Sedangkan untuk komponen keilmuan paradigma kontruktivisme adalah sebagai berikut:

  1. Secara Ontologi, paradigma ini menyatakan bahwa realitas bersifat sosial dan karena itu akan menumbuhkan bangunan teori atas realitas majemuk dari masyarakatnya. Dengan demikian, tidak ada suatu realitas yang dapat dijelaskan secara tuntasoleh suatu ilmu pengetahuan. Realitas ada sebagai perangkat bangunan yang menyeluruh dan bermakna yang bersifat konfliktual dan dialektis. Karena itu, paham ini menganut prinsip relatifitas dalam memandang suatu fenomena alam atau sosial. Kalau tujuan penemuan ilmu dalam positivisme adalah untuk membuat generalisasi terhadap fenomena alam lainnya, maka kontruktivisme lebih cenderung menciptakan ilmu yang diekpresikan dalam bentuk pola-pola teori, jaringan atau hubungan timbal balik sebagai hipotesis kerja, bersifat sementara, lokal dan spesifik.

  2. Secara Epistimologi, hubungan antara peneliti dan objek penelitiannya bersifat interaktif, sehingga fenomena dan pola-pola keilmuan dapat dirumuskan dengan memperhatikan gejala hubungan yang terjadi antara keduanya. Oleh karena itu, hasil rumusan ilmu yang dikembangkan sangat bersifat subjekif.

  3. Secara Metodologi, paham ini secara jelas menyatakan bahwa penelitian harus dilakukan diluar laboratorium, yaitu di alam bebas sejawarnya (natural) untuk menangkap fenmena alam apa adanya dan secara menyeluruh tanpa campur tangan dan manipulasi pengamat atau pihak peneliti. Dengan setting natural ini, maka metode yang banyak digunakan adalah metode kualitatif dan metode pengumpulan data dilakukan melalui proses hermeneutik dan dialektik yang difokuskan pada kontruksi, rekontruksi dan elaborasi suatu proses sosial.2

Menurut penggagasnya yaitu Barney Glaser dan Anselm Strauss, grounded theory tertulis sebagai… the discovery of teory from data-which we call grounded theory… Memang betul, ajaran utama pendekatan ini adalah, bahwa teori harus muncul dari data atau dengan kata lain, teori harus berasal (grounded) dalam data (Chamberlain,1995). Ungkapan grounded theory merujuk pada teori yang dibangun secara induktif dari satu kumpulan data. Bila dilakukan dengan baik, maka teori yag dihasilkan akan sangat sesuai dengan kumpulan data tadi. Dengan demikian hal ini sangat kontras dengan teori yang diturunkan secara deduktif dari grand theory, tanpa bantuan data dan sering kali terjadi akhirnya tidak pas dengan data manapun.

Menurut Glasser dan Strauss, kekhasan dari metode ini dengan metode-metode penelitian kualitatif yang lain adalah dari penghasilan teori yang beralas data. Tetapi dalam tulisan Stren (1994) lebih jelas terungkap perbedaan grounded theory dengan metode-metode penelitian kualitatif yang lain. (a) Kerangka kerja konseptualnya dihasilkan dari data, bukan dari kajian terdahulu, walaupun demikian kajian terdahulu juga selalu mempengaruhi hasil akhir penelitian. (b) Peneliti yang menggunakan metode grounded theory selalu berusaha menemukan proses-proses dominan di suatu situasi sosial, bukannya menguraikan unit sosial yang diteliti. (c)setiap bagian dari data dibandingkan dengan bagian data yang lain guna menemukan model kategori jawaban yang sesuai dengan tujuan penelitian. (d) pengumpulan data dilapangan dapat dimodifikasi sejalan dengan pengemangan model kategorisasi, proporsi dan dalil yang ditemukan di lapangan guna mengembangkan teori baru, dan (e) Peneliti tidak mengikuti penggunaan langkah-langkah yang bersifat linier, melainkan kerja dengan matriks, dimana beberapa proses penelitian dilakukan secara simultan.3

Perubahan yang terjadi di kalangan peneliti sosial, menjadikan perubahan pula pada aspek pemanfaatan metode grounded theory, seperti; (1) Kombinasi metode grounded theory dengan metode lai, kegiatan ini akan menghasilkan ragam-ragam model grounded theory dalam berbagai pokok masalah dan disiplin ilmu pengetahuan. (2) Prosedur yang digunakan dalam metode mungkin akan lebih dielaborasi, prosedur ini disesuaikan dengan “subtansi” kajian yang terus-menerus akan dikembangkan. (3) Berbagai teori atau interpretasi akan terus dikembangkan oleh ilmuwan yang berbeda dari disiplin yang berbeda pula. Sebagai konsekuensi logis grounded theory akan menjadi metode universal, memiliki kekuatan untuk membahas berbagai masalah yang lebih luas, kompleks dan memiliki keunikan. (4) Aplikasi komputer akan lebih banyak digunakan , terutama untuk membuat matriks, pembobotan masalah dan kategorisasi yang diperoleh di lapangan.4

Sebuah pertanyaan dapat muncul secara wajar, ketika peneliti ingin melakukan kegiatan penelitian dengan grounded theory. Kapan persisnya dan pada kondisi yang bagaimana grounded theory pas untuk digunakan? Bagaimana langkah-langkah yang harus dipenuhi untuk menggunakan pendekatan tersebut?

Menurut Galser dan Strauss, metode ini baik digunakan bila peneliti ingin membangun teori, baik teori subtantif maupun teori formal dalam seperangkat kode-kode properti maupun dalam diskusi teoritis. Sedangkan menurut Stren (1994), metode grounded theory paling baik diterapkan pada investigasi hal-hal yang masih belum jelas, atau untuk memperoleh persepsi baru dari hal-hal yang dianggap sudah lumrah.5

Menurut Schlegel (1984) dan Stren (1994) ada tiga elemen dasar dari grounded theory, yang masing-masing tidak terpisahkan satu sama lainnya. (1) Konsep, dimana konsep ini dihasilkan dari konseptualisasi atas data. (2) Kategorisasi, merupakan level atau tingkatan yang lebih tinggi dan lebih abstrak dari konsep. Kategori juga merupakan “corner stone” dari pengembangan teori, dimana disini ada proses pengelompokan konsep melalui perbandingan yang sama atau berbeda pada kelompoknya masing-masing. (3) Proposisi, adalah suatu pernyataan yang menunjukkan pada adanya hubungan yang konseptual.6

Cara untuk menghasilkan teori dengan metode grounded theory terdiri dari lima fase yang harus diikuti, yaitu: desain penelitian, pengumpulan data, penyusunan data, analisis data, dan pembandingan dengan literatur. Fase-fase ini masih diturunkan menjadi sembilan langkah, yaitu: tinjauan ulang literatur teknis, memilih kasus, membuat protokol pengumpulan data yang akurat, masuk ke lapangan, penyusunan data, menganalisis data yang berhubungan dengan kasus awal, percontohan teoritis, mencapai akhir penelitian, dan pembandingan teori yang muncul dengan literatur yang telah ada.7

 

Kesimpulan

Metode Grounded theory di Indonesia masih sangat jarang digunakan, sehingga peluang untuk menggunakan metode ini sebenarnya masih sangat terbuka lebar. Namun, perlu disadari penggunaan metode yang belum popular seperti ini, bagi mahasiswa (atau Peneliti pemula) harus siap menerima pertanyaan ini-itu dari dosen yang notabennya belum mempelajarinya. Pengalaman pribadi saya dalam penggunaan metode ini, saya harus mempertahankannya, menerangkannya dan memahamkannya berkali-kali ke dosen bahwa metode ini layak digunakan untuk konteks penelitian yang sedang saya lakukan. Saya juga harus menunggu sampai dosen juga mempelajarinya (masih untung dosen mau belajar).

Metode ini menurut saya adalah sebuah metode yang akan membawa pada perkembangan ilmu yang lebih maju, kontekstual dan spesifik. Kekuatan analisisnya yang terstruktur dan memenuhi kaidah sebuah ilmu dan metodologi merupakan modal dari pengembangan keilmuan (pengembangan dari grand theory atau middle theory). Langkah konseptualisasi, kategorisasi dan penarikan proposisi serta mencari jalinan proposisi dari rimba data merupakan inti dari metode ini. Penggunaan metode ini memerlukan kesiapan yang matang dari seorang Peneliti. Kesiapan yang menjadi syarat utama adalah sebuah idealitas dari Peneliti untuk membongkar, mengkaji, merekontruksi sebuah teory yang ada. Kesiapan lain adalah perlunya pemahaman yang lebih terhadap metodologi penelitian secara umum. Dan persiapan yang paling pokok adalah kesiapan mental Peneliti, karena proses penelitian akan menguras banyak energi, tentangan dari orang lain (dosen atau peneliti lain), serta pandangan yang luas. Dan saya selalu salud pada para Peneliti (baik muda atau senior) yang telah memilih metode ini.

 

 

1 Agus Salim (ed.), Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Yogyakarta, Tiara Wacana, 2001.

2 Ibid.,

 

3 Ibid.,

 

4 Ibid.,

 

5 Ibid.,

 

6 Ibid.,

 

7 Ibid.,

Comments

6 Responses to “Mengenal Metode Grounded theory”

  1. fatih on February 22nd, 2008 12:26 am

    saya memohon agar diberikan mengenai konsep groudet teori dan kalau ada mengenai kesimpulan induktif konseptualisasi

  2. Andik Nurcahyo on March 3rd, 2008 4:39 am

    buat mas fatih
    saya rasa dengan membaca 2 tulisan saya mengenai grounded theory (mengenal metode graunded theory dan teknik penelitian grounded theory) yang ada di web ini, hal yang anda sudah ada. terima kasih.

  3. sigit on April 6th, 2008 8:17 pm

    bagaimana dengan subjektivitas peneliti dalam metode penelitian ini???? (bukannya strategi ini sangat mengandalkan lebih pada commonsense peneliti ya???)

    seberapa jauh pen-generalisasian hasil temuan lapangan ke tingkat teori???? (bukannya sangat sulit melakukan generalisasi bila kita hanya mengkaji spesific geographical fenomena)

  4. sigit on April 6th, 2008 8:23 pm

    oiya dari penjelasan dalam artikel ini nampaknya penjelasan akan strategy penelitian “grounded theory” memiliki banyak persamaan dengan strategy penelitian “studi kasus”. so…. apa bedanya diantara kedua strategy tersebut?????

  5. Andik Nurcahyo on April 12th, 2008 6:17 pm

    terima kasih mas sigit atas apresiasinya,…
    1. Sebenarnya masalah subjektivitas bukan hanya terjadi di Grounded theory, melainkan pada semua penelitian kualitatif. Masalah subjektifitas dalam penelitian kualitatif selama ini memang masih menjadi bahan perdebatan di kalangan peneliti dan bahkan muncul sejak kemunculan metode penelitian kualitatif itu sendiri. Commensense peneliti memang berperan karena memang dalam semua metode kualitatif menjadikan peneliti sebagai instrument penelitian. Namun ketika data dan realitas dilapangan mengatakan lain, maka peneliti harus menjujung objektif. Kalau tidak lupa ingat masalah ini banyak dibahas di bukunya moleong dan nasir.

    2.Penggeneralisasian grounded theory memang bersifat spesifik, dan sifat hasilnya hanya pengembangan teory. lihat pembahasan dan contoh di bukunya agus salim yang paradigma penelitian sosial.

    3.Dilapangan memang hampir tidak bisa dibedakan model-model penelitian yang berakar dari metode kualitatif. Memang ada beberapa kesamaan diantara keduanya, namun ada juga perbedaannya. Beda yang jelas terutama terletak pada model analisisnya.

  6. zaenal on May 3rd, 2008 1:11 pm

    terima kasih atas info tentang metodologi penelitian, ini adalah ilmu yang maha hebat yang saya temukan, karena jujur saya membutuhkan ilmu ini tapi sulit menemukan yang aplicable.

    boleh ga minta tolong.

    kalo mau melakukan riset pendapat masyarakat terhadap polisi pake metodologi apa ya ????

    thanks berat

Leave a Reply