Desa Balun: Sebuah Miniatur Masyarakat Madani
Desa Balun adalah sebuah desa yang terletak di Lamongan bagian tengah yaitu tepatnya Kecamatan Turi dan hanya mempunyai jarak 4 kilometer dari
Sejarah singkat Desa Balun[1]
Desa Balun merupakan salah satu desa tua yang syarat dengan berbagai nilai sejarah, termasuk tentang penyebaran Islam oleh para santri murid Walisongo dan masih terkait dengan sejarah hari jadi Kota Lamongan. Di mana kata Balun berasal dari nama “Mbah Alun” seorang tokoh yang mengabdi dan berperan besar terhadap terbentuknya desa balun sejak tahun 1600-an.
Mbah Alun yang dikenal sebagai Sunan Tawang Alun I atau MBAH SIN ARIH sebenarnya adalah Raja Blambangan bernama Bedande Sakte Bhreau Arih yang bergelar Raja Tawang Alun I lahir di Lamajang Tahun 1574. Dia merupakan anak dari Minak Lumpat yang menurut buku babat sembar adalah keturunan Lembu Miruda dari Majapahit (Brawijaya). Mbah Alun belajar mengaji dibawah asuhan sunan Giri IV (Sunan Prapen). Selesai mengaji beliau kembali ketempat asalnya untuk menyiarkan agama Islam sebelum diangkat menjadi Raja Blambangan.
Selama pemerintahannya (tahun 1633-1639) Blambangan mendapatkan serangan dari Mataram dan Belanda hingga kedaton Blambangan hancur. Saat itu Sunan tawang Alun melarikan diri ke arah barat menuju Brondong untuk mencari perlindungan dari anaknya yaitu Ki Lanang Dhangiran (Sunan Brondong), lalu diberi tempat di desa kuno bernama Candipari ( kini menjadi desa Balun) untuk bersembunyi dari kejaran musuh. Disinilah Sunan Tawang AlunI mulai mengajar mengaji dan menyiarkan ajaran isalm sampai wafat Tahun 1654 berusia 80 tahun sebagai seorang Waliyullah.
Sebab menyembunyikan identitasnya sebagai Raja, maka beliau dikenal sebagai seorang ulama dengan sebutan Raden Alun atau Sin Arih. Sunan Tawang Alun I sebagai ulama hasil gemblengan Pesantren Giri Kedaton ini menguasai ilmu Laduni, Fiqh, Tafsir, Syariat dan Tasawuf. Sehingga dalam dirinya dikenal tegas, kesatria, cerdas, Alim, Arif, persuatif, dan yang terkenal adalah sifat toleransinya terhadap orang lain, terhadap budaya lokal dan toleransinya terhadap agama lain.
Desa tempat makam Mbah Alun ini kemudian disebut Desa Mbah Alun dan kini Menjadi Desa Balun, Kecamatan Turi. Dan makamnya sampai sekarang masih banyak di ziarahi oleh orang-orang dari daerah lain, apalagi bila hari Jum’at kliwon banyak sekali rombongan-rombongan peziarah yang datang ke Desa Balun.
Adapun kaitannya dengan adanya keanekaragaman agama yaitu agama Islam, kristen dan Hindu berawal ketika tahun 1960-an. Ketika pasca G 30 S PKI tepatnya tahun 1967 Kristen dan Hindu mulai masuk dan berkembang di Desa Balun. Berawal dari adanya pembersihan pada orang-orang yang terlibat dengan PKI termasuk para pamong desa yang diduga terlibat. Akibatnya terjadi kekosongan kepala desa dan perangkatnya. Maka untuk menjaga dan menjalankan pemerintahan desa ditunjuklah seorang prajurit untuk menjadi pejabat sementara di desa Balun. Prajurit tersebut bernama pak Batih yang beragama Kristen. Dari sinilah kristen mulai dapat pengikut, kemudian pak Batih mengambil teman dan pendeta untuk membabtis para pemeluk baru. Karena sikap keterbukaan dan toleransi yang tinggi dalam masyarakat Balun maka penetrasi Kristen tidak menimbulkan gejolak. Disamping itu kristen tidak melakukan dakwa dengan ancaman atau kekerasan.
Pada tahun yang sama yakni 1967 juga masuk pembawa agama hindu yang datang dari desa sebelah yaitu Desa Plosowayuh. Adapun tokoh sesepuh hindu adalah bapak Tahardono Sasmito. Sekali lagi agama hindu inipun tidak membawa gejolak pada masyarakat umumnya. Masuknya seseorang pada agama baru lebih pada awalnya lebih disebabkan oleh ketertarikan pribadi tanpa ada paksaan. Sebagai agama pendatang di desa Balun, kristen dan Hindu berkembang secara perlahan-lahan. Mulai melakukan sembahyang di rumah tokoh-tokoh agama mereka, kemudian pertambahan pemeluk baru dan dengan semangat swadaya yang tinggi mulai membangun tempat ibadah sederhana dan setelah melewati tahap-tahap perkembangan sampai akhirnya berdirilah Gereja dan Pura yang megah.
Sifat dasar masyarakat yang demikian terbuka dan rasa toleransi antar pemeluk yang tinggi, memupuk rasa persaudaraan yang kuat sehingga ketika ada isu dari luar tentang konflik agama yang terjadi pada tahun 1999 tidak dapat mengguncang persaudaraan mereka. Waktu itu ada isu akan ada pengeboman Gereja, tetapi masyarakat Balun percaya bahwa itu hanya isu dari orang luar saja, menurut mereka umat Islam Balun yang juga masih keluarga mereka tidak akan tega melakukan itu. Dan untuk berjaga-jaga maka pihak Kecamatan turun tangan mempertemukan tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk memberi pengertian.
Kehidupan sosial-budaya masyarakat Balun
Desa Balun adalah salah satu desa tua yang ada di kabupaten Lamongan yang masih memelihara budaya-budaya terdahulunya. Di samping itu keanekaragaman agama semakin memperkaya budaya desa Balun dan yang menjadi ciri khas adalah interaksi sosial diantara warganya yang multi agama (Islam, Kristen, Hindu). Sejak masuknya Hindu dan Kristen tahun 1967 dan Islam sebagai agama asli belum pernah terjadi konflik yang berkaitan agama.
Meskipun secara jumlah agama mayoritas tetap Islam yaitu 75% ( 3498 orang dari 4.644 jumlah total penduduk) dan agama yang paling sedikit adalah hindu yaitu 7% (289 orang) serta sisanya agama kristen 18% (857 orang)[2], tekanan ataupun perlakuan sewenang-wenang tentang agama tidak pernah ada. Masing-masing dari mereka saling menjaga. Begitu pula tidak ada pengelompokan tempat tinggal berdasarkan agama, mereka campur dan menyebar merata.
Interaksi sosial yang demikian itu melahirkan budaya-budaya yang khas, serta budaya asli juga dapat mempengaruhi interaksi multi agama yang terjadi. Interaksi sosial yang demikian itu melahirkan interpretasi pada simbol-simbol budaya berbeda dengan daerah lain. Suatu misal pada saat datang kehajatan untuk menyumbang atau membantu para perempuan banyak yang memakai kerudung (bukan jilbab) dan bapak-bapak banyak yang memakai songkok atau kopyah, padahal agama mereka belum tentu Islam sebagaimana pada masyarakat yang lain. Hal ini berarti kerudung dan kopyah lebih berarti sebagai simbol budaya yang diinterpretasikan menghormati pesta hajatan atau acara ngaturi.
Budaya selamatan juga masih banyak dilakukan oleh masyarakat Balun. Biasanya selamatan menyambut bulan Romadhon dan selamatan sebelum hari raya umat Islam. Bagi yang bukan agama Islam juga ikut mengadakan selamatan, hal ini lebih dimaksudkan atau dimaknai sebagai tindakan sosial dari pada tindakan religius sebab mereka bukan umat Islam. Mereka memaknai untuk merekatkan antar tetangga dan mengenai waktu mereka selaraskan dengan pilihan umat Islam. Selamatan untuk orang meninggal juga masih dilakukan sebagian besar masyarakat Balun, dan mengundang para tetangga dan kerabat termasuk mereka yang beragama Hindu dan Kristen. Bagi mereka memennuhi undangan adalah sesuatu yang penting karena disitu terdapat kontrol sosial yang ketat. Bagi mereka yang tidak datang harus pamitan sebelum atau sesudahnya.
Dalam pesta hajatan terdiri dari dua hari, hari yang pertama adalah acara “ngaturi” dimana dalam acara ini didatangi oleh seluruh warga RT yang bersangkutan dan seluruh keluarga yang ada. Dalam acara ini juga dihadiri oleh perangkat desa sebagai wakil dari pihak desa dan oleh tokoh agama yang sesuai dengan agama yang punya sebagai pembaca doa. Untuk hari kedua adalah maksud dari hajatan itu sendiri, bisa nikah, sunatan atau yang lainnya. Masyarakat yang datangpun dari ketiga agama tersebut.
Perbedaan agama terjadi bukan hanya pada antar keluarga tetapi terjadi pula dalam kelurga itu sendiri, sehingga dalam setiap acara salah satu agama pasti melibatkan aggota keluarga yang berbeda agama. Baik bantuan berupa tenaga maupun biaya upacara keagamaan yang akan berlangsung. Misal, dalam acara tahlilan anak yang beragama Kristen ikut membantu orang tuanya dalam acara tahlilan tersebut. Bahkan dalam satu atap terdiri dari tiga agamapun sudah tidak heran lagi.
Kebiasaan lain dari masyarakat Balun ini adalah penyambutan bulan Agustus yang dimeriahkan dengan banyak acara yang biasanya atas inisiatif atau arahan pihak desa. Untuk Agustus tahun ini acara yang diadakan dalam lingkup desa dan mencakup semua masyarakat adalah adalah pentas seni dan donor darah masal yang di pelopori oleh kalangan pemuda (karang taruna ). Sebagai ciri khas masyarakat yang multi agama adalah seni yang dimainkan dalam pentas seni. Adanya kolaborasi dari tri-agama, dimana Islam dengan seni bermain terbang, kristen dengan band, dan hindu dengan gamelannya.
Model interaksi antar mereka dalam kehidupan sehari-hari urusan agama tidak pernah dibicarakan, mereka lebih tertarik bicara tentang tambak, tentang pekerjaan mereka atau hanya sekedar guyonan. Dalam pekerjaan atau interaksi sehari-hari hampir tidak ada perbedaan, tidak ada simbol-simbol agama yang dipakai atau yang membedakan mereka. Sarung banyak dipakai masyarakat Balun baik dalam beribadah maupun dalam kehidupan sehari-hari dan sarung dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya dipakai mereka yang beragama Islam.
Keunikan interaksi ini beberapa kali mengundang Peneliti-peneliti untuk mengkajinya, baik secara social maupun budaya. Dan beberapa kali juga pernah diliput oleh stasiun TV swasta.
[1] Sejarah Desa Balun pernah digali oleh Drs. H. Achmad Chambali dan dibukukan secara terbatas oleh peneliti dan kepala desa balun, untuk lebih jelasnya lihat Sejarah Mbah Alun (Bedande Sakte Bhreau Sin Arih), buku ini belum dipublikasikan secara luas.
[2] Monografi Desa Balun Tahun 2002.
Comments
7 Responses to “Desa Balun: Sebuah Miniatur Masyarakat Madani”
Leave a Reply
Ass sebelumnya , saya sangat kagum dengan artikel ini, karena merupakan salah satu kota sejarah masuknya islam di kota lamongan yang masih ada sampai sekarang dan sayangnya publikasinya masih sedikit dan kalau bisa disebarluaskan supaya banyak yang tahu.Wss From Mashuda Ds.Deket
Waalakum salam, mas huda….
seneng deh ketemu arek LA yang sama-sama tertarik pada sejarah islam di lamongan. makasih atas apresiasinya.
Wow! LA gw bgt! Ini artikel okeh punya bow! Fera lagi ada tugas dari kampus buat nyari info seni budaya, yaudah Fera asal klik aja, pas Fera baca, artikelnya okeh punya. Fera jadi tau budayanya orang Lamongan, Hihihi, Fera kangen ama Lamongan, pgn pulang niy, Fera skrg kuliah di Unmuh Malang
Mas,nya sudah pernah kesini belum?.
kok aku biasanya nyebutnya makamnya mbah asrih..
18 tahun disana baru tau kalo namanya itu mbah arih!!.
Saya sering sekali ke Balun karena rumah saya hanya sekitar 2 km dari Balun. Namun sejak di Jogja (1999)saya ke sana sekitar 5 kali. Pada tahun 2003 saya melakukan penelitian untuk skripsi di balun selama 10 hari. Dan terakhir 16 april 2008 saya ke balun ke balai desa untuk cari data.
Mengenai nama, Mbah Alun atau mbah Sin Arih berdasarkan dokumen sejarah Balun yang ada di balai Desa. Sedangkan dengan kebiasaan orang sana memang memanggilnya mbah asrih.
sebuah desa yang mengandung nilai sejarah yang tinggi.salut terhadap artikel yang ditulis semoga mampu menamba kazana ilmu
saya kira artikel dari mas Huda di atas cukup bagus, meski masih harus dibutuhkan lagi verivikasi kesejarahan. banyak buku2 metodologi sejarah utamanya terbitan luar negeri yang sangat ketat dalam mengambil sebuah kesimpulan sementara atas usaha rekonstruksi sejarah masa silam.
bahkan mungkin kalau sekiranya buku yang dimaksud mas Huda akan dilauncing dan dipasarkan ke luar, bagi saya akan meninggalkan bolong-bolong dan rentan kritik. tapi sebagai upaya awal apa yang telah dilakukan oleh kawan2 di lamongan sudah satu langkah lebih maju.
saya juga termasuk salah seorang yang masih punya keinginan untuk membongkar kabut sejarah yang masih menyelemuti kampung asal saya. kebetulan tempatnya tak terbilang jauh dengan desa mbalun.
apa yang teman2 lakukan telah mengingaatkan saya akan sumber informasi yang dulu pernah saya dapatkan dari banyak narasumber, utamanya tiyang sepuh kampung, berdesarkan cerita turun-temurun (foklor) ternyata nama Mbalun secara kebahasaan terambil dari akar kata ” alun”, yang artinya gulungan ombak laut. bahkan sampai sekarang masih tertinggal parian jawa, yang menyebut di salah satu sairnya “………ombai ngalon-ngalon” kalau sayan tidak salah ingat. sampai sekarang saya masih belum melakukan penelitian sejarah yang serius, hanya kecil-kecilan karena minimnya biaya. kalau mas Huda ngelihat banyaknya kerang gede-gede (lautan) di hampir seantero bengawan/kali dengan hanya mengeduk tak lebih dari setengah meteran, belum lagi banyak nama desa maupun dusun yang memakai kosakata karang ditambah juga dengan adanya parian wong bengawan jeroh semakin manambah keyakinan saya untuk mengajukan sebuah hipotesis sejarah bahwa kawasan bonorowo dulunya adalah kawasan pesisiran. oh ya saya juga jadi ingat dengan cerita gladak kapal di utara desa Blawi yang kabarnya dulunya kapalya para wali.
untuk membuktikan hipotesis di atas, tidak cukup dengan hanya bertumpuh pada asumsi-asumsi belaka tapi harus dibuktikan di lapangan. peneliti dengan basis keilmuan; arkeologi, geologi, oceonografi, filolog mutlak diperlukan. tapi untuk sekarang rasa-rasanya abot mas.
bagi saya bukan sebuah hal yang irasional, kalau kemudian kawasan bonorowo yang awalnya kawasan pesisir itu saat ini sudah menjelmah menjadi daratan luas. pada proses geologi, naiknya permukaan tanah, dan sendimentasi selama ribuan tahun, juga mungkin adanya bencana letusan gunung merapi? menjadi biang dari walet-nya pesisir bonorowo. tak lebih dari 2 meter, jika kita mengebot muka tanah bengawan, di sana bisa ditemukan lapisan abu vulkanik, dengan serakan kerang-kerang laut dari yang ukurannya kecil hingga besar,seukuran cangkang kerang mutiara yang sekarang marak dibudidayakan. kalau nggak percaya sialakan dicoba.
belum lagi kalau mau melacak nama-nama kampung yang sangat mencirikan kemaritman: Ds. Ngujung (pembuat kapal), :Dsn. Luntas (lunas kapal), Ds. kepudi bener (kemudi tengah kapal), dsn. Mlawe (pengrajin lawe (layar) kapal)Ds. Dondoman (tukang sulam kain layar kapal)dst.juga kosa kata lain juga bisa ditambahkan, yang tak hanya terkait dengan nama desa ataupun dusun.
entah suatu saat nanti mudah-mudahan ada yang maum mengali sejarah masyarakat bengawan jeroh. thanks kabeh yo.