Sepotong tentang Pengembangan Masyarakat (Community Development)
Pengembangan masyarakat (community development) merupakan wawasan dasar bersistem tentang asumsi perubahan sosial terancang yang tepat dalam kurung waktu tertentu. Sedangkan teori dasar pengembangan masyarakat yang menonjol pada saat ini adalah teori ekologi dan teori Sumber daya manusia. Teori ekologik mengemukakan tentang “batas pertumbuhan”. Untuk sumber-sumber yang tidak dapat diperbaruhi perlu dikendalikan pertumbuhannya. Teori ekologik menyarankan kebijaksanaan pertumbuhan diarahkan sedemikian rupa sehingga dapat membekukan proses pertumbuhan (zero growth) untuk produksi dan penduduk.
Teori Sumber daya manusia memandang mutu penduduk sebagai kunci pembangunan dan pengembangan masyarakat. Banyak penduduk bukan beban pembangunan bila mutunya tinggi. Pengembangan hakikat manusiawi hendaknya menjadi arah pembangunan. Perbaikan mutu sumber daya manusia akan menumbuhkan inisiatif dan kewirausahaan. Teori sumber daya manusia diklasifikasikan kedalam teori yang menggunakan pendekatan yang fundamental.[1]
Community development juga bisa didefinisikan sebagai pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan masyarakat lingkungan dalam aspek material dan spiritual tanpa merombak keutuhan komunitas dalam proses perubahannya. Keutuhan komunitas dipandang sebagai persekutuan hidup atas sekelompok manusia dengan karakteristik: terikat pada interaksi sosial, mempunyai rasa kebersaman berdasarkan genealogis dan kepentingan bersama, bergabung dalam satu identitas tertentu, taat pada norma-norma kebersamaan, menghormati hak dan tanggung jawab berdasarkan kepentingan bersama, memiliki kohesi sosial yang kuat, dan menempati lingkungan hidup yang terbatas. [2]
Pengembangan masyarakat (community development) sebagai salah satu model pendekatan pembangunan (bottoming up approach) merupakan upaya melibatkan peran aktif masyarakat beserta sumber daya lokal yang ada. Dan dalam pengembangan masyarakat hendaknya diperhatikan bahwa masyarakat punya tradisi, dan punya adat-istiadat, yang kemungkinan sebagai potensi yang dapat dikembangkan sebagai modal sosial.
Adapun pertimbangan dasar dari pengembangan masyarakat adalah yang pertama, melaksanakan perintah agama untuk membantu sesamanya dalam hal kebaikan. Kedua, adalah pertimbangan kemanusiaan, karena pada dasarnya manusia itu bersaudara. Sehingga pengembangan masyarakat mempunyai tujuan untuk membantu meningkatkan kemampuan masyarakat, agar mereka dapat hidup lebih baik dalam arti mutu atau kualitas hidupnya. [3]
Secara umum ada beberapa pendekatan dalam pengembangan masyarakat, diantaranya adalah:
- Pendekatan potensi lingkungan, hal ini berkaitan dengan daya dukung lingkungan yang ada pada masyarakat setempat.
- Pendekatan Kewilayahan, hal ini berkaitan dengan pengembangan terhadap wilayah dalam arti kesesuaian dengan wilayahnya (desa/kota) terhadap hal yang akan dikembangkan.
- Pendekatan kondisi fisik, lebih pada kondisi fisik manusianya.
- Pendekatan ekonomi, hal ini berkaitan dengan peningkatan pendapatan masyarakat.
- Pendekatan politik.
- Pendekatan Manajemen, Pendekatan ini dilakukan dengan melakukan pndataan terhadap potensi, kekuatan dan kelemahan yang ada dalam masyarakat kemudian dilakukan dengan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, bugeting dan controlling. Model pendekatan ini sebenarnya dapat dilakukan dalam masyarakat yang bermacam-macam (pedesaan,perkotaan, marjinal, dan lain-lain).
- Pendekatan sistem, Pendekatan ini melibatkan semua unsur dalam masyarakat.[4]
[1] Muhammad khoirun najib, Pengembangan masyarakat Islam, dalam Populis Jurnal Pengembangan masyarakat edisiNo. III/2003,
[2] ——-, hand uot kuliah Pemberdayaan masyarakat, tidak diterbitkan.
[3] Sukriyanto, Model-model Pengembangan Masyarakat Dalam Era Kekinian, ibid., hal.28.
[4] Ibid., hal. 30-32.
Comments
3 Responses to “Sepotong tentang Pengembangan Masyarakat (Community Development)”
Leave a Reply
saat ini, dunia korporasi juga banyak yang sudah melaksanakan community development bagi masyarakat sekitar.
bentuk yang paling common adalah berpartisipasi dalam pembangunan fasos dan fasum di sekitar korporasi itu mendirikan asetnya.
Iya comdev saat ini berkembang jadi Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial perusahaan. Namanya saja “tanggung jawab” semoga menjadi momentum yang efektif mengurangi kemiskinan dan ketertinggalan.
mungkin akan ama dengan ungkapan No Acktion Talk Only. Hal ini erat kaitan dengan pendekatan pembangunan yang Top Down. Ada banyak media yang menyuarakan itu, pembangunan harus di mulai dari akar rumput. tak ketinggalan pemerintahpun mulai menyuarakannya. Ada hal yang luar bisa di balik fenomena suara dan menyuarakan isu pembangunan ini. pengembangan masyarakat yang sering di sebut sebagai pembangunan yang bermula dari inpirasi masyarakat yang ingin membangun dirinya sendiri. saya masi menemukan beberapa hal yang sering mengganjal pelaksanaannya sala satunya adalah adanya berpikir lama bertindak yang baru. Okelah saya menyetujui adanya kebijakan pemerintah ingin memberdayakan masyarakat dengan pendekatan community Development tapi apakah hal ini tidak menjadi terhambat hanya karena birokrasi yang masi kaku dan lama. Birokrasi yang masi Top Down bagaimana mungkin dapat menerapkan sistem Butom Up. karena isu pengembangan masyarakat sangat erat dengan sistem Butom Up. jangan sampai adanya indikasi masi menggunakan birokrasi lama dalam keinginan mencapai masyarakat yang mampu mandiri atas inpirasi, dan kerja swadaya asyarakat untuk membangun diri atas potensi mereka.