Sholawat Montro
Sholawat Montro di temukan di daerah Kauman, Pleret, Kabupaten Bantul, DIY. Kesenian ini pencipta kesenian ini ialah Kanjeng Pangeran Yudhanegara, salah satu menantu Sultan Hamengkubuwono VIII yang kebetulan juga menjadi panglima laut Hindia Belanda. Kesenian ini Read more
Sholawat Jawi
Kesenian Shalawat Jawi di temukan di daerah Pleret, Bantul, dan beberapa juga sudah menyebar di sekitar kecamatan Pleret, atau bahkan di sekitar Kabupaten Bantul. Kesenian ini merupakan salah satu bentuk penegasan jawanisasi kesenian Islam. Kesenian yang berkembang seiring dengan tradisi peringtaan Maulid Nabi ini mengartikulasikan syair atau syiiran shalawat kepada Nabi Muhammad dengan medium bahasa Jawa, bahkan juga dengan melodi-melodi Jawa (langgam sinom, dandang-gula, pangkur dan lain-lain). Read more
KESENIAN SINGIRAN
Kesenian ini sangat jarang ditemui karena semakin punah, seiring kemajuan jaman, meninggalnya para pelakunya, dan sengaja di counter kelompok tertentu (islam modern) karena dianggap ada penyimpangan dari Islam. Kesenian Singiran merupakan salah satu bagian integral dari ekspresi seni tradisi ummat Islam. Kesenian ini berkembang seiring dengan tradisi memperingati seribu hari kematian (3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari dan 1000 hari) salah satu warga. Jika Read more
Sholawat Maulud
Salah satu kelompok sholawat maulud yang masih eksis adalah kelompok kesenian sholawat maulud “puji rahayu” yang berada di daerah Kasihan, Bantul, DIY. Shalawat maulud sebenarnya merupakan tradisi pembacaan shalawat pada saat peringatan maulid Nabi Muhammad. Dalam perkembangannya, tradisi ini menjadi kesenian pembacaan shalawat yang dibacakan pada acara-acara khitanan, aqiqah (kelahiran bayi), maupun acara-acara rutin yang diselenggarakan masyarakat. Read more
Sholawat Rodat
Kesenian ini salah satunya ditemukan di daerah “
Kesenian Rodat merupakan salah satu kesenian tradisi di kalangan ummat Islam. Kesenian ini berkembang Read more
Desa Balun: Sebuah Miniatur Masyarakat Madani
Desa Balun adalah sebuah desa yang terletak di Lamongan bagian tengah yaitu tepatnya Kecamatan Turi dan hanya mempunyai jarak 4 kilometer dari
“Daerah Santri” di Bantul
Berawal dari kesombongan pemikiran sebagai seorang pendatang dari Jawa Timur. Saya selalu membandingkan kehidupan antara di kampung halaman (Lamongan) dengan yang ada di perantauan (Jogja), terutama kehidupan beragama. Memang secara umum nuansa keagamaan dalam kehidupan sehari-hari lebih kental di kampung halaman saya. Sehingga hal ini membuat saya mulai memandang sebelah mata tentang kehidupan keagamaan di Jogja. Dan keadaan ini berlangsung lama. Sejak pertama saya menginjakkan kaki di Jogja (th 1999).
Sampai pada akhirnya pada awal 2007 yang lalu, saya menemukan fakta yang mengejutkan tentang keberadaan “kota santri” di Kabupaten Bantul. Read more
Budaya “Besik” di Lamongan: Suatu Tinjauan Sosial Budaya
Kalau kita melewati pemakaman umum kota Lamongan 3 sampai 4 hari menjelang bulan Romadhon dan hari raya ( Idhul Fitri dan Idhul Adha) maka akan kita dapati keramaian orang berziarah kubur. Diantara orang-orang yang berziarah kubur tersebut terdapat anak-anak dengan sabit ditangan. Mereka bukan bermain atau hanya sekedar nongkrong. Mereka adalah penawar jasa untuk membersihkan makam dan tentu saja untuk mendapat bayaran. Dalam istilah mereka (local) kegiatan membersihkan kuburan untuk mencari uang disebut “besik”.
Teknik Riset Dokumentasi
Riset dokumentasi yang dimaksud dalam tulisan adalah dokumentasi audio-visual.
Prinsipnya pelaksanaannya diantaranya:
Multiculturalism Syi’iran di Jawa dalam Perspektif Historis
Multikulturalisme budaya letaknya bukan pada geo-politik atau tempat atau wilayah (peradaban), namun lebih pada keberagaman main set suatu kelompok atau komunitas, tetapi bukan masyarakat itu sendiri namun main set nya Multi berarti pertemuan antar budaya (main set), bukan pertemuan antar kebudayaan.